Salah satu metode unggulan yang diajarkan adalah teknik box breathing, sebuah latihan pernapasan taktis yang sering digunakan oleh para profesional untuk menjaga fokus di bawah tekanan ekstrem. Cara kerja teknik ini sangat sederhana namun sangat efektif: menghirup napas dalam empat hitungan, menahan napas selama empat hitungan, mengembuskan napas dalam empat hitungan, dan menahan kembali selama empat hitungan. Bagi seorang atlet siswa, menguasai teknik ini berarti memiliki alat kendali diri untuk menurunkan detak jantung yang terlalu cepat akibat rasa cemas sebelum pertandingan dimulai, sehingga mereka tetap bisa berpikir jernih saat mengambil keputusan di lapangan.
Tekanan dalam dunia olahraga sekolah seringkali menjadi tantangan besar bagi para remaja yang harus menyeimbangkan antara prestasi akademik dan performa di lapangan. SMP Muttaqien memperkenalkan pendekatan inovatif melalui manajemen stres yang dirancang khusus untuk mendukung kesehatan mental para siswa yang aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler. Program ini menjadi pendukung utama dalam menghadapi jadwal kompetisi yang padat, termasuk dalam mempersiapkan jadwal voli SMP yang memerlukan konsentrasi tinggi serta ketenangan mental di tengah riuhnya suasana pertandingan persahabatan antar sekolah.
Implementasi teknik pernapasan ini dilakukan secara rutin sebelum latihan fisik dimulai dan sesudah sesi latihan berakhir. SMP Muttaqien memahami bahwa kelelahan fisik seringkali berbanding lurus dengan kelelahan mental. Dengan memberikan ruang bagi siswa untuk melakukan relaksasi, sekolah membantu mereka memulihkan energi lebih cepat. Selain bermanfaat bagi performa olahraga, kemampuan mengelola stres ini juga sangat membantu siswa saat menghadapi ujian sekolah atau presentasi di depan kelas. Ketangguhan mental yang terbentuk akan menjadi modal berharga bagi karakter mereka di masa depan.
Dalam sesi pelatihan manajemen stres, para siswa juga diajak untuk mengenali gejala awal kecemasan, seperti tangan berkeringat, pikiran yang berantakan, atau rasa mual. Dengan mengenali gejala-gejala ini, siswa dapat segera melakukan intervensi mandiri menggunakan teknik box breathing sebelum stres tersebut menguasai diri mereka. Guru olahraga dan pembimbing konseling bekerja sama untuk memastikan bahwa setiap atlet mendapatkan dukungan emosional yang memadai. Lingkungan sekolah yang suportif ini menciptakan atmosfer di mana kompetisi dipandang sebagai sarana pengembangan diri, bukan sebagai beban yang menakutkan.