Cegah Banjir! Santri Muttaqien Buat Lubang Biopori

Gerakan utama yang mereka usung adalah aksi nyata untuk cegah banjir melalui pengelolaan tanah yang lebih sehat. Salah satu penyebab utama banjir di lingkungan padat adalah minimnya area resapan karena permukaan tanah yang tertutup semen atau aspal. Untuk mengatasi hal tersebut, para santri mulai melakukan pemetaan di titik-titik yang sering menjadi pusat genangan air. Mereka diajarkan untuk memahami topografi lahan secara sederhana agar penempatan solusi resapan air ini menjadi tepat sasaran dan memberikan hasil maksimal saat hujan deras mengguyur wilayah tersebut.

Solusi praktis yang mereka terapkan adalah dengan mulai buat lubang biopori di berbagai sudut halaman. Biopori sendiri merupakan lubang silindris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah yang nantinya akan diisi dengan sampah organik. Sampah ini akan memicu aktivitas organisme tanah seperti cacing dan perakaran tanaman, yang kemudian akan membentuk liang-liang kecil (pori-pori) di dalam tanah. Liang-liang inilah yang akan mempercepat proses penyerapan air ke dalam tanah secara vertikal, sehingga air tidak hanya mengalir di permukaan dan menyebabkan banjir.

Proses pembuatan biopori ini dilakukan secara gotong royong oleh para santri di bawah bimbingan para pengajar. Kegiatan ini pun menjadi momen yang sangat berharga bagi Muttaqien untuk menanamkan rasa cinta lingkungan kepada generasi muda. Setiap santri bertanggung jawab untuk merawat lubang biopori yang mereka buat, termasuk memastikan lubang tersebut tetap terisi sampah organik seperti dedaunan kering atau sisa makanan dari dapur. Dengan demikian, program ini juga sekaligus menyelesaikan permasalahan manajemen sampah organik di lingkungan asrama secara simultan.

Selain fungsi utamanya sebagai penyerap air, lubang biopori ini juga berfungsi sebagai pabrik kompos alami. Sampah organik yang membusuk di dalam lubang akan berubah menjadi pupuk alami yang sangat kaya akan nutrisi bagi tanaman di sekitarnya. Hal ini membuat tanah di lingkungan pendidikan mereka menjadi semakin subur dan hijau. Tanaman hias dan pohon peneduh tumbuh lebih subur karena ketersediaan cadangan air tanah dan nutrisi yang cukup, menciptakan suasana belajar yang lebih sejuk, asri, dan jauh dari kesan gersang atau panas.