Menciptakan lingkungan belajar yang kondusif merupakan tanggung jawab bersama yang memerlukan komitmen nyata dari seluruh warga sekolah. Hal inilah yang mendasari langkah berani SMP Muttaqien saat mengadakan sebuah acara besar bertajuk Deklarasi Damai. Kegiatan ini bukan sekadar seremoni formalitas, melainkan sebuah pernyataan sikap tegas dari siswa, guru, hingga staf sekolah untuk memastikan bahwa lembaga pendidikan ini tetap menjadi tempat yang nyaman bagi siapa pun tanpa terkecuali.
Masalah perundungan atau bullying seringkali menjadi momok yang menghambat perkembangan mental dan akademik siswa di berbagai sekolah. Namun, di SMP Muttaqien, kesadaran untuk memutus mata rantai kekerasan ini sudah dimulai sejak dini. Melalui deklarasi ini, setiap siswa diajak untuk menandatangani pakta integritas yang berisi janji untuk tidak melakukan tindakan yang merugikan orang lain, baik secara fisik maupun verbal. Komitmen ini diperkuat dengan pembentukan tim duta damai di setiap kelas yang bertugas untuk menjadi mediator jika terjadi gesekan antar siswa sebelum masalah tersebut membesar.
Tahun 2026 ini menjadi momentum penting di mana keamanan sekolah tidak hanya dilihat dari sisi fisik, tetapi juga keamanan psikologis. Pihak sekolah menyadari bahwa perundungan di era digital atau cyberbullying juga memiliki dampak yang sama merusaknya. Oleh karena itu, program sekolah aman yang diusung oleh SMP Muttaqien mencakup edukasi mengenai cara berinteraksi yang sopan di media sosial. Para siswa diajarkan bahwa apa yang mereka tulis di dunia maya memiliki konsekuensi nyata di dunia fisik, dan bahwa kebaikan harus ditebarkan di semua platform komunikasi yang mereka gunakan.
Kepala Sekolah SMP Muttaqien dalam pidatonya menegaskan bahwa prestasi akademik tidak akan bermakna jika karakter siswanya tidak dilandasi oleh rasa saling menghargai. Sekolah ini menerapkan kebijakan nol toleransi terhadap segala bentuk intimidasi. Dengan sistem pelaporan yang anonim dan aman, siswa yang menjadi korban atau saksi perundungan kini tidak perlu merasa takut untuk melapor. Tindakan cepat dan tepat dari pihak sekolah dalam menangani setiap laporan menjadi bukti bahwa deklarasi ini benar-benar dijalankan dengan serius dan bukan sekadar slogan di atas kertas.