Kedaulatan pangan merupakan isu krusial yang harus dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk generasi muda. SMP Muttaqien mengambil langkah berani untuk berkontribusi dalam kemandirian pangan nasional melalui sebuah proyek besar yang melibatkan seluruh siswanya. Dengan semangat untuk dobrak pangan, sekolah ini memulai produksi tepung mocaf (Modified Cassava Flour) sebagai alternatif pengganti tepung terigu yang mayoritas bahan bakunya masih harus diimpor. Inovasi ini menjadikan sekolah bukan hanya tempat belajar teori, tetapi juga pusat produksi pangan alternatif yang potensial.
Tepung mocaf dipilih karena ketersediaan bahan baku singkong yang melimpah di lingkungan sekitar sekolah. Di bawah bimbingan para guru, siswa diajarkan untuk melakukan produksi secara mandiri mulai dari pemilihan singkong yang berkualitas hingga proses fermentasi yang presisi. Pengolahan singkong menjadi tepung mocaf memerlukan teknik khusus agar aroma khas singkong hilang dan teksturnya menjadi halus menyerupai terigu. Siswa belajar mengenai bioteknologi melalui proses fermentasi menggunakan mikroba yang aman, sebuah penerapan sains yang sangat nyata dan bermanfaat.
Keunggulan dari program di SMP Muttaqien ini adalah kemampuannya untuk mengelola seluruh rantai produksi secara mandiri. Siswa tidak hanya menjadi penonton, tetapi pelaku utama. Mereka dibagi menjadi tim-tim yang mengurusi bagian pengupasan, perendaman, penjemuran dengan bantuan sinar matahari yang diukur suhunya, hingga tahap penepungan dan pengemasan. Proses ini melatih kemandirian dan rasa tanggung jawab siswa terhadap produk yang mereka hasilkan. Mereka diajarkan bahwa untuk menghasilkan produk pangan berkualitas, dibutuhkan standar kebersihan dan ketelitian yang sangat tinggi.
Produk tepung mocaf hasil karya siswa ini kemudian diolah kembali di kantin sekolah menjadi berbagai penganan sehat seperti kue, mie, dan roti. Hal ini bertujuan untuk membuktikan kepada warga sekolah bahwa bahan pangan lokal tidak kalah bersaing dengan produk impor dari segi rasa dan tekstur. Selain itu, mocaf dikenal lebih sehat karena bebas gluten (gluten-free), sehingga sangat baik untuk kesehatan pencernaan. Dengan mengonsumsi hasil produksi sendiri, siswa secara langsung mempraktikkan gaya hidup berkelanjutan dan mendukung gerakan cinta produk dalam negeri.