Pengembangan formula pengendali serangga ini dimulai dengan memanfaatkan tanaman yang memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder tertentu. Siswa diajarkan untuk meracik bahan-bahan seperti daun pepaya, bawang putih, hingga cabai rawit yang dihaluskan dan difermentasi. Cairan hasil ekstraksi tersebut mengandung Racun Alami yang efektif mengusir ulat, kutu daun, hingga belalang, namun tetap ramah bagi tanah dan mikroba yang menguntungkan. Inovasi ini memberikan pemahaman mendalam kepada siswa bahwa alam sebenarnya sudah menyediakan penawar bagi setiap masalah yang ada, asalkan kita memiliki pengetahuan untuk mengolahnya dengan tepat dan bijak.
Menjaga kesehatan kebun sekolah sering kali berbenturan dengan dilema penggunaan bahan kimia berbahaya yang dapat merusak ekosistem dan kesehatan siswa. Menyadari risiko tersebut, SMP Muttaqien mengembangkan sebuah metode pengendalian organisme pengganggu tanaman yang sepenuhnya mengandalkan kearifan lokal dan bahan-bahan organik. Melalui pendekatan biopestisida, sekolah ini mencoba mengembalikan keseimbangan alam tanpa harus mengandalkan produk pabrikan yang mahal dan berpolusi. Strategi ini diambil untuk memastikan bahwa sayuran dan tanaman hias yang ada di lingkungan sekolah tetap aman untuk disentuh maupun dikonsumsi oleh seluruh warga sekolah.
Proses pembuatan biopestisida ini dilakukan secara berkala di laboratorium IPA sekolah. Siswa melakukan uji coba terhadap berbagai jenis konsentrasi larutan untuk melihat efektivitasnya dalam mematikan atau mengusir hama tertentu. Data hasil pengamatan tersebut dicatat dalam jurnal praktikum sebagai bagian dari pembelajaran biologi terapan. Dengan cara ini, siswa tidak hanya belajar tentang struktur tubuh serangga, tetapi juga cara mengendalikan populasinya secara etis. Pengendalian secara alami ini terbukti mampu menekan tingkat kerusakan daun hingga 80 persen tanpa meninggalkan residu beracun yang bisa memicu alergi atau gangguan pernapasan pada siswa saat berada di taman.
Selain manfaat ekologis, program ini juga melatih kemandirian sekolah dalam hal pengadaan sarana produksi pertanian. Ketergantungan terhadap pestisida kimia dapat dikurangi secara drastis, yang berdampak pada penghematan anggaran pemeliharaan kebun sekolah. Para guru pembimbing juga menekankan pentingnya pencegahan melalui pola tanam tumpang sari yang dapat membingungkan serangga pengganggu. Dengan menciptakan ekosistem yang beragam, predator alami seperti burung dan capung akan datang dengan sendirinya untuk membantu menjaga populasi serangga tetap terkendali. Ini adalah bentuk simulasi nyata dari rantai makanan yang sehat di lingkungan pendidikan.