Metode utama yang digunakan adalah detoksifikasi gadget secara total selama periode tertentu melalui kegiatan luar ruangan yang intens. Di tahun 2026, di mana realitas virtual semakin mendominasi, sekolah ini justru memilih untuk memperkuat realitas fisik. Siswa diajak untuk meninggalkan zona nyaman mereka di kota dan memasuki kawasan hutan atau pegunungan untuk mengikuti sesi petualangan survival yang menantang. Di sana, mereka tidak akan menemukan sinyal internet, melainkan harus fokus pada instruksi navigasi manual dan kerja tim yang nyata.
Selama kegiatan ini, siswa diajarkan keterampilan bertahan hidup yang mendasar, seperti menyalakan api tanpa korek gas, membangun perlindungan dari bahan alam, hingga mencari sumber air bersih. Aktivitas ini secara psikologis memaksa otak untuk kembali pada mode bertahan hidup yang aktif, yang secara perlahan menggeser ketergantungan pada stimulasi layar. Rasa puas yang didapatkan dari keberhasilan mendirikan tenda atau memasak makanan di tengah hutan memberikan jenis kebahagiaan yang jauh lebih mendalam dan autentik dibandingkan dengan mendapatkan “like” di media sosial.
Program di detoksifikasi gadget ini juga menekankan pada pentingnya interaksi sosial tatap muka. Tanpa gangguan notifikasi ponsel, siswa mulai belajar untuk benar-benar mendengarkan satu sama lain. Mereka berbagi cerita di sekitar api unggun, bekerja sama memecahkan masalah navigasi, dan saling membantu saat menghadapi tantangan fisik. Proses ini membangun empati dan ikatan persaudaraan yang kuat, sesuatu yang sering kali hilang dalam interaksi digital yang dangkal. Guru-guru bertindak sebagai pemandu yang tidak hanya memberikan arahan teknis, tetapi juga menjadi teman diskusi mengenai makna kehidupan dan pengelolaan diri.
Dampak dari program ini mulai terlihat setelah siswa kembali ke lingkungan sekolah dan rumah. Mereka melaporkan adanya peningkatan fokus belajar, kualitas tidur yang lebih baik, dan berkurangnya kecemasan sosial. Siswa menjadi lebih sadar (mindful) dalam menggunakan teknologi; mereka mulai menggunakan gadget sebagai alat pendukung produktivitas, bukan lagi sebagai pelarian dari kebosanan. Sekolah juga memberikan edukasi kepada orang tua agar suasana detoks ini tetap terjaga secara konsisten di rumah, sehingga hasil dari petualangan tersebut tidak hilang begitu saja.