Terhambat Belajar Daring: Kisah Dimas di Tengah Pandemi

Saat pandemi melanda, Belajar Daring menjadi keniscayaan. Namun, bagi Dimas, kebijakan ini justru menjadi tembok penghalang. Ia kesulitan mengikuti pembelajaran karena tidak punya ponsel pintar yang memadai, dan yang lebih berat, ia tak mampu membeli kuota internet. Kondisi ini membuatnya sering tertinggal pelajaran dan merasa putus asa, terjerat dalam keterbatasan yang tak ia inginkan.

Setiap pagi, saat teman-temannya sibuk menyalakan gawai untuk mengikuti kelas virtual, Dimas hanya bisa menatap layar televisi yang mati atau buku-buku lama. Suasana rumahnya yang sederhana tidak memungkinkan untuk fasilitas internet yang memadai. Akses Belajar Daring menjadi kemewahan yang tak terjangkau baginya, sebuah ironi di era digital.

Keterbatasan ini membuat Dimas sering ketinggalan materi pelajaran. Guru-guru hanya bisa menyampaikan materi melalui grup chat atau video conference, yang semuanya memerlukan akses internet. Tanpa itu, Dimas seperti terputus dari dunia pendidikan, menyaksikan teman-temannya melaju sementara ia tertinggal di belakang.

Rasa putus asa kerap menghampirinya. Ia berusaha keras meminjam ponsel tetangga sesekali, namun itu tidak cukup untuk mengejar semua pelajaran yang tertinggal. Dimas merasa tak berdaya menghadapi situasi Belajar Daring yang menuntut fasilitas yang tak ia miliki, membuatnya frustrasi.

Orang tua Dimas sangat menyadari kesulitan yang dihadapi putranya. Mereka sudah berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi kebutuhan dasar, namun membeli ponsel pintar dan kuota internet adalah beban tambahan yang tak sanggup mereka pikul. Mereka hanya bisa melihat Dimas berjuang dalam kesendiriannya.

Dampak dari tidak bisa mengikuti Belajar Daring ini sangat terasa. Prestasi akademik Dimas menurun, dan motivasinya untuk belajar pun ikut terkikis. Ia khawatir akan semakin tertinggal jauh dan sulit mengejar ketertinggalan saat sekolah kembali dibuka secara normal.

Kisah Dimas adalah potret nyata kesenjangan digital yang diperparah oleh pandemi. Banyak anak di berbagai pelosok menghadapi tantangan serupa, di mana akses terhadap teknologi dan internet menjadi penentu utama dalam keberhasilan Belajar Daring mereka.

Pemerintah dan berbagai pihak telah berupaya memberikan bantuan, namun jangkauannya belum merata. Masih banyak Dimas-Dimas lain yang terisolasi dari proses pendidikan karena ketiadaan fasilitas dasar yang menunjang pembelajaran di era digital ini.

Kita sebagai masyarakat memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan setiap anak memiliki akses yang sama terhadap pendidikan. Bantuan berupa perangkat lunak, kuota internet gratis, atau pusat belajar komunitas dengan akses Wi-Fi dapat menjadi solusi krusial.