Pendidikan karakter tidak selamanya bisa didapatkan di dalam ruang kelas yang berdinding kaku. Terkadang, pelajaran hidup yang paling berharga justru ditemukan saat seseorang berhadapan langsung dengan tantangan alam yang tidak terduga. Hal inilah yang mendasari pelaksanaan kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa atau yang akrab disebut LDKS. Pada tahun ini, para pengurus OSIS dan calon pemimpin masa depan dari SMP Muttaqien diajak untuk keluar dari zona nyaman mereka menuju sebuah lokasi yang menantang. Mereka menjalani serangkaian simulasi kepemimpinan yang dirancang khusus untuk menguji ketahanan fisik sekaligus kematangan berpikir.
Kegiatan yang dilaksanakan di alam terbuka ini memiliki tujuan yang sangat spesifik, yaitu memupuk kemandirian dan rasa tanggung jawab yang tinggi. Jauh dari fasilitas gadget dan kenyamanan rumah, para siswa diajarkan untuk mengelola sumber daya yang terbatas serta bekerja sama dalam tim yang solid. Setiap peserta dihadapkan pada berbagai rintangan, mulai dari jelajah alam hingga pemecahan masalah (problem solving) di tengah hutan. Di sinilah proses pembentukan jati diri terjadi, di mana ego pribadi harus ditekan demi kepentingan kelompok. Mereka mulai memahami bahwa seorang pemimpin bukan sekadar memberi perintah, tetapi juga orang yang paling depan dalam memberikan solusi.
Salah satu fokus utama dari pelatihan ini adalah membangun mental juara dalam diri setiap siswa. Mental ini bukan hanya tentang keinginan untuk menang dalam kompetisi, melainkan tentang ketangguhan untuk bangkit kembali setiap kali menghadapi kegagalan atau hambatan. Selama sesi malam keakraban di depan api unggun, para instruktur memberikan pembekalan mengenai pentingnya integritas, kejujuran, dan visi dalam memimpin. Diskusi-diskusi reflektif ini seringkali menjadi momen emosional bagi para siswa, di mana mereka mulai menyadari potensi besar yang ada dalam diri mereka selama ini.
Banyak hal menarik yang dialami selama LDKS berlangsung. Mulai dari memasak makanan sendiri menggunakan peralatan sederhana hingga melakukan navigasi menggunakan kompas manual. Pengalaman-pengalaman praktis ini membangun rasa percaya diri yang sangat kuat. Selain itu, interaksi intens selama beberapa hari di alam bebas mempererat ikatan persaudaraan antar siswa. Mereka belajar untuk saling peduli, saling menjaga, dan saling menyemangati saat ada rekan yang mulai merasa kelelahan. Dinamika kelompok yang sehat ini akan menjadi modal berharga saat mereka kembali ke sekolah dan menjalankan program kerja organisasi.