Prestasi akademik yang tinggi sering kali menjadi fokus utama di lingkungan sekolah, namun tanpa kesehatan mental yang stabil, potensi tersebut sulit untuk bertahan dalam jangka panjang. Menyadari pentingnya keseimbangan emosional, SMP Muttaqien mengadakan program khusus yang berfokus pada pengembangan mental juara bagi seluruh siswanya. Dalam program ini, sekolah mengundang pakar Psikologi UI (Universitas Indonesia) untuk memberikan pelatihan mendalam mengenai ketangguhan mental atau yang sering dikenal dengan istilah resiliensi.
Resiliensi adalah kemampuan seseorang untuk bangkit kembali setelah mengalami kegagalan atau tekanan. Di tengah persaingan remaja yang semakin ketat, baik di media sosial maupun di lingkungan sekolah, banyak siswa yang merasa stres dan kehilangan kepercayaan diri. Oleh karena itu, melatih resiliensi siswa sejak dini dianggap sebagai kebutuhan mendesak. Pakar dari UI memberikan berbagai teknik praktis, mulai dari manajemen stres, cara mengelola emosi negatif, hingga bagaimana cara mengubah pola pikir (mindset) dari pesimis menjadi optimis.
Selama pelatihan di SMP Muttaqien, para siswa diajarkan bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan bagian dari proses belajar yang sangat berharga. Melalui simulasi dan sesi berbagi (sharing session), siswa didorong untuk menceritakan tantangan yang mereka hadapi dan mencari solusi secara mandiri namun tetap dalam bimbingan ahli. Pendekatan psikologis ini sangat efektif karena menyentuh sisi empati dan kesadaran diri siswa, membuat mereka merasa didengarkan dan didukung.
Pakar Psikologi UI juga menekankan bahwa mental juara bukan berarti seseorang harus selalu menang dalam setiap kompetisi. Sebaliknya, mental pemenang sejati adalah mereka yang memiliki daya juang tinggi, konsistensi, dan keberanian untuk mencoba hal baru meskipun ada risiko gagal. Dengan memiliki fondasi mental yang kuat, siswa akan lebih siap menghadapi tekanan saat ujian, kompetisi olahraga, maupun tantangan sosial dalam pergaulan sehari-hari.
Dukungan dari pihak sekolah dan orang tua juga menjadi faktor krusial dalam keberhasilan program ini. Sekolah menciptakan ekosistem yang suportif, di mana kesalahan dianggap sebagai ruang untuk perbaikan, bukan untuk penghakiman. Pelatihan ini juga melibatkan sesi khusus bagi para guru agar mereka dapat mengidentifikasi tanda-tanda awal kelelahan mental pada siswa dan memberikan pertolongan pertama secara psikologis. Dengan demikian, perlindungan terhadap kesehatan mental siswa menjadi tanggung jawab bersama.